Senin, 06 April 2015

Tangga darurat 3.3.05




Liza Fatmawati Rusman
1113046000053

Begitu pintu tangga darurat kubuka, udara pengap dan panas yang aku rasakan saat itu, suara para mahasiswa pun masih terdengar jelas di tangga darurat lantai 3. banyak sekali abu rokok berserakan di lantai, ada beberapa potongan rokok juga di lantai itu. Di belakang pintu ada sebuah kain pembersih lantai dengan warna hijau dan bercorak hewan, kain pembersih itu terlihat sangat kotor dan berbau yang menusuk tajam ke hidung ku. Di sebelahnya ada sapu yang berwarna biru dan kuning, dan ada juga tempat sampah yang berdekatan dengan sapu tersebut. Tempat sampah itu di penuhi dengan berbagai bentuk sampah dari botol air mineral, kertas, bungkus makanan dan banyak lagi.
Di sebelah kanan pintu aku melihat sebuah lemari bekas berwarna coklat muda, pintu sebelah kanan dari lemari itu tidak bisa di kunci lagi dan di atas lemari itu terdapat sebuah kotak yang berisi barang-barang bekas. Di depan lemari itu aku juga melihat meja dosen berwarna coklat yang terbuat dari kayu dan sudah tidak terpakai lagi, di atasnya ada kursi mahasiswa yang berwarna coklat sudah rusak dan tidak bisa di gunakan lagi.
Ketika aku menuruni tangga darurat, aku melihat lantai yang sangat kotor seperti tidak pernah dibersihkan. aku juga melihat ada sebuah papan informasi yang berdiri tegap tepat di hadapanku, papan informasi itu lebih tinggi dari pada aku. Ada beberapa kertas pengumuman di papan informasi itu dan ada juga coretan bekas dari spidol yang menempel di papan informasi itu. Papan informasi terlihat sangat kotor dan tidak rapi.
Aku semakin tidak nyaman dengan udara yang semakin panas, aku cepat-cepat menaiki tangga segera membuka pintu dan pergi dari ruangan yang sangat panas itu.

deskripsi waktu dan tempat, Irma apriyanti (1113046000158)

Terik Matahari di Suatu Pasar
Irma apriyanti

Hari itu tepat pukul 11:20, matahari sudah memancar kan sinar nya dengan indah dan aku pun sudah merasakan hangat nya pancaran cahaya itu, karena pada siang itu posisiku sedang duduk santai di depan sebuah toko, sambil memandang suasana disekelilingku yang saat itu sedang ramai sekali sedang bertransaksi jual beli.

Pas hari ini aku datang ke pasar karena ada suatu kegiatan yang ingin dilakukan. Aku heran kenapa hari ini di pasar begitu ramai, sampai-sampai di jalanan pun macet sebab nya pasti karena orang yang sedang berbelanja dan meletakkan kendaraannya seenak nya saja. Aku baru sadar kenapa hari ini begitu ramai seperti tidak biasa nya, karena sekarang masih tanggal muda dan pasti banyak ibu rumah tangga yang membeli keperluan sehari-hari.

Cahaya matahari makin terang siang ini dan tubuh ku sudah mulai tersengat panas nya pancaran cahaya. Aku sedang memfokuskan penglihatan ku ke toko sembako yang berada disamping kanan ku yang jarak nya kira-kira lima meter, disana terlihat ada penjual dan anak buah nya sedang melayani para pembeli yang sedang mengantri dan ada pula yang sedang memilih-milih barang yang ingin dibeli nya. Ramah sekali karyawan di toko itu melayani para pembeli, memberikan pelayanan dengan baik dan sabar.

Siang perlahan berlalu,  terdengar suara adzan ashar dari masjid terdekat situ yang terdengar begitu merdu. Lalu  aku melihat salah satu karyawan di toko itu keluar sambil membawa tas kecil yang berisikan kain sarung, dan melihat dia pergi ke arah masjid yang tidak jauh dari tempat ia bekerja. Tiba-tiba ada angin yang berhembus pelan yang menyapu debu-debu jalanan, aku merasakan aroma tak sedap dari hembusan angin itu, karena ada bak sampah yang sudah penuh isi nya dan belum ada dinas kebersihan yang mengambil sampah-sampah itu, bau itu mengganggu duduk santai ku.

Terlihat dari toko itu tidak sepi pembeli, selalu ada saja pembeli yang datang silih berganti, akan tetapi melihat raut wajah karyawan disitu sudah lelah seperti nya melayani banyak pembeli hari ini. Barang-barang di toko itu sangat komplit maka nya banyak pembeli yang lebih memilih berbelanja sekalian disitu dan harga nya pun lebih terjangkau.

Sore hari mulai datang, aku melihat ke jam tangan yang aku gunakan saat itu menunjukkan pukul 17:00, dan aku mulai beranjak dari tempat yang ku duduki, sebelum aku beranjak meninggal kan pasar, aku melihat di toko itu juga sedang memberes-bereskan barang dan memasukkan barang-barang nya yang berada diluar, rupanya toko itu sudah mau tutup. Dan sudah tak terlihat pembeli di dalam nya.

Dan akhir nya pada pukul 17:30 terlihat langit sudah meredup dan matahari sudah tenggelam, toko itu sudah menutup rapat pintu gerbang nya, dan esok kembali menyambut keramaian-keramaian yang sudah biasa terjadi disana. Lalu aku meninggalkan tempat ini dan berjalan  ke arah rumah.

Pagi di Alun-alun Rangkasbitung



Oleh: Elgi Nurfalahi *)
 1113046000067

                Pukul lima tiga puluh, berawal dari suara dering telepon genggam adikku yang berdering keras menghiang di telinga, mataku  terbuka lalu  tubuh ini terbangun dan mencari sumber suara yang membisingi rumah, serentak beberapa saat terdengar suara adzan dari kampungku kampung sebelah dan kampong orang lain, setelah sembahyang aku keluar rumah, sekian lama aku tak pernah merasakan pagi disini, pukul lima lewat seperempat suasana masih gelap mataharinya belum bersinar,ku hirup udara pagi yang sudah lama aku rindukan dari dulu, sedikit berbeda dengan dulu udaranya sudah berbeda dari waktu masa kecilku yang biasanya terasa dingin namun sekarang hanya begitu saja.

Ruang Kelas Sudut Fakultas, deket Mushalah



Oleh: Elgi Nurfalahi 1113046000067


Pintu sebelah kiri masih terbuka dan seperti biasanya pintu yang kanan tertutup karena ukurannya yang kecil dan hanya didisain untuk melengkapi pintu yang besar, dari luar maupun dari dalam sang pintu terlihat berwarna coklat karena hampir semua pintu di fakultas ini berwarna coklat, tidak hanya warna, tingginya pun seukuran satu sama lain dan anehnya di pintu yang bagian kecil sama-sama ada kaca yang berguna untuk mengintip atau melihat suasana didalam ruangan.
Kaki kanan saya melangkah mengawali untuk memasuki ruangan ini, seperti biasa pandangan saya tersudut mengarah pada kursi dosen yang kala ini masih kosong tanpa nahkoda, seketika itu hidung saya menghirup dalam-dalam udara bernafas karena saya tidak terlambat. Suasana sudah ramai gemuruh percakapan kawan-kawan didalam, perbincangan berupa berbagai bidang, keilmuan maupun pengalaman. Kursi-kursi yang berbentuk sama berbaris berbanjar namun tak beraturan, saya daratkan untuk  duduk dibarisan kursi bagian depan, sekitar lima puluhan kursi bersarang di ruangan ini,dan semuanya kompak berwarna coklat dari depan sampai depan ruangan.

Jumat, 03 April 2015

Zaky Mubarak 1113046000118 (Deskripsi Pengembangan Spasi dan Waktu)



Sepenggal Cerita Indahnya Kebersamaan Pondok Pesantren

Tiiitt.. bunyi suara jam arloji membuyarkan lamunanku sejenak, Ku lihat jam sudah menujukkan tepat pukul 17.00 WIB. Dimana sang senja sebentar lagi akan tiba dan sang matahari seakan siap untuk kembali ke singgasana peristirahatannya setelah lelah bekerja seharian menerangi sang bumi.

Sejenak ku perhatikan aktifitas para santri sore itu. Di antara mereka ada yang sedang sibuk menyapu halaman sembari memebersihkan lumpur got yang warnanya sudah begitu hitam dan mengeluarkan aroma yang tak sedap. Ada juga beberapa anak santri yang sedang berlarian sambil menenteng bola dengan mengenakan baju kotor, berlarian begitu saja tanpa menghiraukan mereka yang sedang kebagian piket kebersihan. Sedangkan dari kejauhan terlihat segerombolan santri putri dengan mengenakan kain mukena berwarna putih bersih sambil menggenggam kitab suci Al-Qur’an berjalan beriringan hendak pergi ke masjid. Bagaikan sosok bidadari anggun nan cantik yang rasanya ingin segera dijadikan istri idaman bagi siapapun yang melihatnya. Dari arah toak masjid, terdengar lantunan shalawat yang dilantunkan dengan begitu indahnya, seakan membuat hati ini menjadi begitu nyaman dan tentram. Ditambah dengan sejuknya angin seolah memberikan salam sapa untuk para penghuninya membuat lingkungan ini menjadi benar-benar begitu nyaman meskipun sangat jauh dari daerah perkotaan. Setelah puas melihat kegiatan santri dari ruang guru, Kembali ku lanjutkan petualanganku untuk menelusuri bagian pondok yang selama dua tahun belakangan ini aku tak jumpa dengannya.

Di bagian belakang pondok terdapat ruangan dapur berbentuk kotak, yang tengah hari tadi menjadi saksi kemaluan terparah yang pernah ku alami seumur hidup. Bagaimana tidak, ketika aku mencoba membantu santri putri untuk membawakan peralatan dapur tiba-tiba kaki ku terpeleset karena licinnya ubin yang penuh dengan sabun cuci. Dengan begitu bokongku pun mendarat begitu sempurna di iringi suara jatuhnya peralatan dapur yang kubawa, sontak membuat adik kelas ku tertawa terbahak-bahak akibat melihat kejadian konyol tersebut. Akupun menjadi salah tingkah sambil menahan rasa sakit yang amat linu dibagian bokongku, Sekejap akupun menjadi tontonan hiburan bagi mereka. Ruangan ini memang dijadikan para santri untuk memasak nasi dan aneka macam lauk pauk untuk santapan para santri ketikan jadwal makan telah tiba. Ruangan ini hanya memiliki satu ventilasi yang membuat ruangan ini menjadi begitu pengap dan berbau asap, akan tetapi karena piket memasak ini di lakukan bersama-sama membuat semua yang mereka lakukan menjadi begitu indah dan menyenangkan meskipun baju mereka mejadi bau asap, mata perih, dan  wajah menjadi hitam berminyak.

Dari ruangan kelas lantai tiga terdengar suara santri sedang membaca ayat suci Al-Qur’an dengan begitu khusyu’ dan merdu. Di ruangan ini para santri belajar menuntut ilmu dengan bimbingan seorang ustad/guru. Ketika pagi, kelas ini penuh dan sunyi karena di dalam sana para santri dengan khidmatnya mendengarkan penjelasan materi dari gurunya. Akan tetapi ketika sang guru berhalangan untuk hadir maka kelas ini berubah bagaikan pasar yang berisik dan ramai, suara itu di timbulkan dari para santri yang sedang asyik bercanda, mengobrol, bahkan berlarian di ruangan kelas untuk mengisi waktu kosong mereka sambil menunggu bunyi bel istirahat yang selalu mereka tunggu untuk sekedar jajan di warung mpok imah.

Dari atas kelas terlihat ruangan asrama putra, yang didalamnya para santri terlihat begitu sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk segera pergi ke masjid. Ruangan itu biasa digunakan para santri untuk melepas lelah setelah melakukan berbagai macam aktifitas di pondok. Di ruangan tersebut tersusun puluhan lemari yang tidak semua lemari ada pintunya, tembok ruangan pun di hiasi dengan pakaian santri yang digantung, seolah menjadi tempat bersarang nyamuk dan sanak keluarga yang paling nyaman.
Para santri telah selesai menjalankan tugas piket kebersihannya. Mereka segera masuk ke masjid untuk segera shalat berjamaah dengan yang lainnya. Matahari pun sudah lenyap dan hanya sedikit sinarnya yang tersisa. Tak lama kemudian adzan maghrib pun dikumandangkan oleh salah seorang santri sebagai peringatan bahwa waktu maghrib telah tiba. Sebentar lagi kelas ini akan ramai kembali oleh aktifitas santri yang akan mengaji kitab habis isya nanti, seluruh lampu di daerah masjid dan lapangan di nyalakan membuat daerah pondok menjadi terang kembali. Di dalam masjid, ratusan santri duduk berjejer rapih sambil mendengarkan adzan yang dikumandangkan. Aktifitas pondok ini terus akan berjalan sampai jam sepuluh malam nanti, semuanya akan terus belajar, belajar, dan belajar mengenai arti kehidupan yang sesungguhnya. Sampai mereka nanti mengerti dan paham bagaimana menjalani kehidupan dengan baik dan sesuai dengan ridha Allah SWT. Mungkin setidaknya mereka lebih baik dibandingkan dengan segerombolan anak muda di luar sana yang pekerjaannya hanya mabuk-mabukan dan tawuran. Dan ku harap kelak, mereka semua mampu menjadi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlaq, agar pada nantinya mereka dapat menggantikan para pemimpin negri ini yang konon katanya lebih mementingkan perutnya sendiri daripada kebutuhan rakyatnya.

Zaky Mubarak 1113046000118 (Pindahan Postingan Blog Minggu Kemarin)



Deskripsi Ruang Kelas 3.7.17 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta
Di pagi hari yang cerah dan sejuk dimana ketika sang mentari dengan begitu angkuhnya menghangati sang bumi dengan ditemani merdunya senandung kicauan burung di atas sang cakrawala, Ku hentakkan kaki ini untuk pertama kalinya di sebuah Universitas yang cukup terpandang di daerah Jakarta. Sebuah Universitas yang dimana tidak semua orang bisa mendapatkan gelar sarjana disana, karena sulitnya persaingan antara ribuan pelajar lain yang mencoba untuk mendapatkan satu kursi di Universitas tersebut. Yaa.. Universitas itu adalah Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, Sebuah kampus yang terdiri dari 11 Fakultas dan terbagi menjadi 2 bagian kampus yaitu Kampus 1 dan Kampus 2. Yang pada nantinya akan menjadi saksi pahit dan indahnya perjalanan hidup kami sebagai seorang mahasiswa, sampai pada akhirnya kami memakai toga bersama-sama dan akan selalu menjadi memorian dalam hidup kami  yang takkan pernah terlupakan untuk diceritakan kepada anak-anak kami kelak di kemudian hari...

Ruangan yang pertama kali ku masuki adalah Ruang 3.7.17, salah satu ruangan yang berfungsi sebagai kegiatan belajar mengajar mahasiswa yang terletak di lantai tujuh persis dekat mushalla. Begitu aku masuk kelas, Ku lihat sudah begitu banyak mahasiswa baru yang duduk berjejer rapih ke arah papan tulis di depan ruangan. Diantara mahasiswa tersebut ada yang sibuk dengan smartphonenya, mungkin karena terlalu enggan untuk menyapa karna tidak saling kenal. Ada juga yang hanya sekedar ngobrol santai untuk sekedar berkenalan dan bertukar sapa. Begitu ku lihat ada bangku kosong di bagian depan, aku pun segera menghampiri dan duduk sejenak disana sambil memerhatikan seisi ruangan kelas. Jendela kelas yang putih transparan seakan membuat pemandangan di dalam kelas menjadi indah dan sejuk. Karena darisana kami bisa melihat gedung-gedung kampus dan deretan rumah warga daerah setempat. Di bagian depan ruangan, ada meja dosen berbentuk kotak yang sangat lebar dan terlihat kokoh berwarna coklat terbuat dari kayu jati, Dengan kursi putarnya yang empuk dan nyaman. Sangat berbeda dengan kursi yang kami gunakan. Kursi yang disediakan untuk para mahasiswa sudah satu paket dengan mejanya, mejanya pun tidak berbentuk aturan dan berdiameter tidak terlalu besar, Kira-kira luas mejanya hanya sekitar 20 sentimeter, yang membuat kami sulit untuk menulis apabila menggunakan file berukuran besar. sangat berbeda dengan meja belajar kami yang ada di bangu SMA. Kemudian ada papan tulis yang kira-kira ukurannya adalah 120 X 240cm lengkap dengan spidol dan penghapusnya. Sebuah alat yang digunakan dosen untuk menulis dan menjelaskan tentang materi yang beliau ajarkan. Sedangkan persis diatas papan tulis, ada sebuah layar proyektor berukuran 406 X 305cm yang berfungsi sebagai layar proyektor ketika mahasiswa sedang melakukan persentasi dan diskusi. Kemudian disamping papan tulis ada lemari kecil yang tersekat 5 bagian yang digunakan untuk menyimpan alat tulis dan buku-buku milik kelas. lantai kelas yang kami pijak terbuat dari ubin berwarna putih yang sudah terlihat kusam, mungkin karena terlalu sering terkena kotoran dan noda. Sedangkan atap kelas kami terbuat dari beton berwarna abu-abu. Uniknya, diatas atap kelas kami tertempel sebuah alat proyektor dan pendeteksi kebakaran berbentuk lingkaran kecil. Pintu kelas kami berwarna coklat dan terbuat dari kayu jati yang terkadang sulit untuk tertutup rapat. Tembok kelas kami pun berwarna kuning gelap, sesuai dengan warna cat gedung fakultas kami. Kemudian di bagian belakang ruangan  ada triplek tebal berukuran panjang dan lebar yang menutup kelas kami secara penuh. Fungsinya sebagai penyekat dan pembatas dengan kelas lainnya. Triplek pembatas kelas tersebut berbentuk rolling door yang bisa dibuka tutup suatu saat apabila ada penggabungan dua kelas atau lebih di mata kuliah yang sama.
Setelah ku perhatikan isi kelas dengan seksama, Aku pun merasakan ada hawa dingin yang begitu sangat menusuk di setiap poro-pori kulitku. Dan lebih kerennya lagi, rasa dingin ini bukan berasal dari angin atau udara apalagi kipas angin. Begitu ku perhatikan ternyata ada AC (Air Conditioner) bermerk sharp terpajang rapih dan kokoh persis diatas bagian jendela kelas, Mungkin AC ini digunakan agar para mahasiswa bisa nyaman dan tenang ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Setelah dengan puasnya aku mengamati seisi ruangan kelas, Aku pun segera berkenalan dengan seorang wanita anggun dan cantik yang duduk persis di sebelahku. Gadis itu amat elok dan cantik ketika pertama kali ku pandangi. Dengan bentuk wajah berbentuk oval, alis tebal, hidung mancung, serta kulit yang putih dan bersih. Setelah kami berkenalan, tidak tau mengapa rasanya aku menjadi bingung untuk mencari topik pembicaraan yang pas. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, Tidak perduli alasan apa yang tepat untuk menyatakan kenapa saya begitu suka dengan wanita berkacamata itu. “Argghhh.. Ini salah satu godaan yang berat. Tapi demi kesuksesanku di masa depan, aku harus tetap fokus pada tujuan dan cita-cita yang sudah ku targetkan untuk ke depannya. Karena aku begitu yakin, Ini bukan saat yang tepat untuk menghabiskan waktu hanya sekedar untuk  drama kehidupan  yang berlebihan. Karna pada dasarnya skenario tuhan itu indah, dan kalau kita mengikuti aturan dan cara mainnya pastilah hidup kita bahagia dan tentram, Bicaraku dalam hati.” 15 menit kemudian dosen pengajar pun datang, dan semua mahasiswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan seksama.

Kamis, 02 April 2015

Deskripsi pengembangan spasi dan waktu



Malam Spesial di Asrama
Afni Afida (1113046000101)
Pukul delapan lewat tiga puluh menit, suatu malam yang tenang di asrama. Malam ini langit tak berbintang, tidak ada satupun bintang yang muncul menghiasi langit gelap. Karena langit habis menangis seharian. Ciputat diguyur hujan lebat, dan petir yang hebat. Guyuran hujan bulan maret membuatku kedinginan malam ini. 

Pada saat sekarang ini, kebanyakan anak asrama sudah berada di kamar masing-masing. Yang masih tersisa adalah anak-anak yang masih nonton TV di ruang tengah, dan anak-anak yang mempunyai kegiatan lain seperti rapat dan mengikuti kegiatan ekstra di asrama.  

Angin bertiup kencang melewati kamarku. Malam ini terasa istimewa, karena terdengar suara genjrengan gitar yang dimainkan anak kosan sebelah asrama. Menambah keindahan dan kedamaian malam ini. Aku terhanyut dengan lantunan lagunya dan bunyi gitarnya. Sepoy-sepoy anginpun membuat bulu romaku berdiri, marasa menggigil badanku lama-lama duduk di teras kamar. 

Jam menunjukan pukul sembilan lewat lima belas menit, suara genjrengan gitar itu pun hilang dari pendengaranku, suasana berubah menjadi sunyi dan hening, yang tersisa hanya suara jangkrik, yang membuat malam ini terasa sunyi sepi. Akupun masuk ke kamar, sementara asramaku akan tertidur lelap sepanjang malam, mengumpulkan tenaga untuk mengahadapi tingkah anak-anak asrama. Aku akan terbangun dengan suasana yang berbeda, akan kusambut esok hari dengan senyuman indah, seindah bunga yang baru mekar. “good night, Have a nice dream”.