Selasa, 07 April 2015

Zaky Mubarak (1113046000118) Deskripsi Dalam Waktu Yang Lama



Dibalik Indahnya Taburan Bintang  Pantai Pangandaran Malam Itu

            Tepat pukul empat sore aku dan teman-teman telah tiba di tempat salah satu wisata pantai yang cukup terkenal  di daerah Tasik Malaya Jawa Barat. Begitu sampai pintu masuk, Kami cukup membayar tiket seharga Rp 10.000,- untuk masuk ke dalam pantai. Yang pada nantinya dana itu akan digunakan  untuk biaya perawatan dan operasional pantai. Di dekat pintu masuk, ada sebuah plang besar yang isinya bertuliskan “Selamat Datang Di Tempat Wisata Pantai Pangandaran” seolah memberi salam tanda sapa bagi setiap para wisatawan yang datang dari berbagai macam daerah dan membuat diriku ini rasanya tak sabar lagi untuk merasakan bagaimana indahnya merasakan puncak malam tahun baru di wisata pantai dengan di temani ombak dan laut bersama teman-teman yang bertingkah konyol.

            Begitu kami masuk, kami disambut oleh sejuknya semilir angin sepoi-sepoi yang membuat rambut kami menjadi acak-acakan tidak tertata. Sederet pedagang asongan dan souvenir berjejer rapih berbentuk garis sepanjang pintu masuk. Para pedagang dengan sibuknya menjajakan dagangan mereka masing-masing kepada para wisatawan yang sedang berkunjung. Di barisan sebelah kiri terlihat pedangang Baju khas pantai, kacamata, topi, gelang dan berbagai macam souvenir dan cendramata khas jawa barat. Sedangkan di barisan paling kanan terlihat sederet toko makanan khas jawa barat dan satu dua warung rokok yang dibuka agak berjauhan tempatnya satu sama lain. Hangatnya butiran pasir yang kami pijak membuat hati ini semakin bergeriliya kegirangan. Sedangkan keadaan pantai sore itu belum begitu ramai, mungkin pucaknya adalah nanti malam, karena tentunya semua orang akan berbondong-bondong datang ke tempat wisata ini untuk melihat pesta kembang api di malam pergantian tahun baru yang indah. 

            Aroma masakan khas jawa barat dan sederet toko makanan di pojok pinggiran pantai membuat cacing-cacing dalam perut kami menjadi bergerak dan kelaparan. Maklum perjalanan kami tadi menghabiskan waktu enam jam dari desa sukaraja. Maka dari itu kami putuskan untuk beristirahat dan makan sejenak sebelum bermain ke pinggiran pantai. Aku dan teman-teman sengaja mengambil kursi paling pojok agar tidak terganggu dengan lalu-lalang orang yang lewat. Dari kejauhan terdengar segerombolan anak-anak sedang bernyanyi sambil diiringi musik dengan peralatan musik seadanya. Mereka bernyanyi dengan riang dan ikhlas seolah tanpa beban. Entah sedang apa dan dimana kedua orang tua mereka semua, yang membiarkan buah hatinya turun ke jalanan dengan wajah polos untuk bekerja demi mendapatkan sebuah koin dan selembaran uang kertas yang lusuh. Setidaknya aku sangat bersyukur karna sampai saat ini aku masih diberikan kedua orang tua yang amat begitu bertanggung jawab dan baik kepada anak-anaknya.

            Setelah selesai makan, kami bersama-sama pergi ke pinggiran pantai untuk menyaksikan  bagaimana indahnya terbenam matahari secara perlahan-lahan di suatu senja. Aku benar-benar takjub ketika melihat sekitar pantai secara seksama. Di sebelah kiri pantai berdiri sebuah tebing besar yang begitu terlihat kokoh namun begitu indah. Di atas tebing tersebut ada begitu banyak pohon dengan ditemani suara burung-burung kecil yang saling bersahutan. Kemudian di sebelah kanan pantai ada banyak batu karang yang siap menghadang jalannya ombak yang setiap kalinya selalu bergulung ke arah pinggiran pantai. Hembusan angin sejuk yang kurasakan tak hentinya membuat hati ini bergetar dan selalu bersyukur atas nikmat hidup dan bagaimana rasa takjubnya seorang hamba kepada segala ciptaan Tuhannya yang amat sangat luar biasa ini. Setelah selesai mengabadikan moment ini dengan cara foto bersama, kami tidur terlentang menghadap langit yang mulai gelap. Sambil menikmati indahnya senja sore hari dengan ditandai sang matahari yang seolah-olah masuk ke dalam hamparan air laut untuk segera beristirahat.

            Tepat pukul 11 malam, para wisatawan yang berdatangan ke wisata pantai makin penuh dan menjadi ramai. Diantara para pengunjung, ada yang datang bersama keluarganya, teman-temannya bahkan ada juga yang bersama pacarnya. Di pinggiran pantai terlihat ratusan anak muda yang sedang duduk diatas pasir sambil membuat bentuk lingkaran kecil bersama temannya masing-masing. Aktifitas yang mereka lakukan sambil menunggu puncaknya pergantian malam tahun baru adalah dengan bernyanyi bersama-sama sambil memainkan gitar dengan petikan yang begitu mahir. ada juga yang hanya sekedar mengobrol bercerita dengan begitu asiknya, sampai mereka begitu tertawa terbahak-bahak dengan ditemani kebulan asap yang keluar dari mulut mereka, seolah membuat mereka lupa akan setiap permasalahan yang sedang mereka hadapi.
            Dengan sekejap, seisi pantai berubah bak lautan manusia yang begitu ramai dan sesak, bagaikan para buruh yang sedang berdemo ke gedung DPR untuk menuntut kenaikan hak dan gaji mereka. Sahutan demi sahutan suara terompet menandakan bahwa pergantian malam tahun baru semakin dekat. Ledakan petasan yang tak henti-hentinya makin mewarnai malam tahun baru ini menjadi begitu seru dan ramai. Di tengah-tengah pantai didirikan panggung live music untuk menghibur para wisatawan yang datang. Pimpinan manajemen dari pantai galunggung secara tiba-tiba naik ke atas panggung untuk memberikan nasihat kepada para wisatawan dan warga setempat agar selalu tetap menjaga keindahan pantai dan jangan sampai mencemarinya. Kemudian beliau berhitung mundur dari angka sepuluh untuk memberikan aba-aba pergantian malam tahun baru. Setelah selesai berhitung puluhan petasan dan sahutan bunyi terompet makin menjadi-jadi. Diantara para pengunjung berpelukan satu sama lain dan mengucapkan puji syukur atas nikmat panjang umur kepada sang tuhan. Ada juga yang mengabadikan pesta kembang api dengan cara merekam adegan tersebut, membuat suasana pantai menjadi tambah ramai dan bising.

            Karena hembusan angin yang sedari tadi selalu hinggap di tubuhku, membuat aku begitu kedinginan dan ingin segera pergi ke toilet untuk buang air kecil. Ketika aku berjalan hendak ke toilet betapa kagetnya aku ketika aku melewati deretan pohon yang begitu lebat dan besar, aku menyaksikan puluhan anak muda yang sedang bermabuk-mabukan sambil menghisap lintingan yang terbuat dari kertas, dengan mata kepala ku sendiri. Diantara puluhan anak muda tersebut adapula yang berjenis kelamin perempuan. Mereka sibuk bercerita hingga tertawa-tawa tidak jelas sambil menikmati barang haram yang ada dalam genggaman mereka masing-masing. Dengan melihat kejadian tersebut membuat niatku menjadi urung untuk segera pergi ke toilet. Apakah ini yang dinamakan generasi penerus bangsa ? pada saat dimana seharusnya mereka sibuk untuk mempersiapkan masa depan mereka, justru yang mereka lakukan sekarang hanya akan merusak diri mereka dan membuat hidup menjadi berantakan. Aku pun segera pergi untuk meninggalkan tempat tersebut dan setidaknya dalam hati kecil ku berharap semoga mereka akan cepat sadar dan segera bangkit agar segera memperbaiki hidupnya untuk masa depan yang lebih baik.

            Tepat pukul tujuh pagi, aku dibangunkan oleh teman ku untuk segera pergi ke pantai untuk berenang bersama-sama. Semalam kami tidur menumpang di tempat warga dikarenakan tempat sewa penginapan yang sudah penuh. Ketika kami kembali ke pantai pada pagi harinya, para pedagang masih tetap sibuk menjaga toko mereka masing-masing sambil menunggu pembeli yang akan datang. Aku dan teman-teman membeli beberapa souvenir dan beberapa makanan untuk oleh-oleh ketika sampai di rumah nanti. Pantai yang tadinya bersih dan indah kini menjadi kotor dan sampah berserakan di sekitar pantai akibat pesta tahun baru semalam. Segenap petugas kebersihan dengan sigap memunguti sampah yang setiap kali tak mau diatur karena tertiup angin yang berhembus dari arah laut ke daratan. Panggung musik yang semalam berdiri di tengah-tengah pantai kini pun sudah selesai di bongkar oleh petugas. Aku dan teman-teman segera berenang di pantai sambil menemani sang matahari yang seakan siap kembali untuk menyinari sang bumi. 

            Perlahan-lahan pengunjung pantai kembali ramai. Rata-rata mereka adalah sekumpulan keluarga yang sedang berliburan dan berwisata. Setelah selesai berenang kami kembali mengisi perut kami di sebuah warung makan khas sunda di pinggiran pantai. Makanan sunda memang terkenal dengan makanan yang super pedas dan berkuah, sehingga membuat perut kami menjadi kepanasan, seperti panasnya keadaan pantai saat ini. Daerah pantai kini tengah dipenuhi oleh segerombolan anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggiran pantai. Aku dan teman-teman segera mengemasi barang dan bersiap-siap untuk pulang kembali ke desa sukaraja. Mungkin sampai sore bahkan malam nanti pantai ini akan tetap menjadi ramai dikunjungi banyak orang. Itu semua dikarenakan kealamian pantai yang masih benar-benar terjaga keasriannya sampai saat ini. Tugas mereka yang sesungguhnya adalah bagaimana caranya mereka agar bisa menanamkan budi pekerti dan pribadi akhlak yang baik kepada anak-anak mereka. Agar pada nantinya negara ini bisa menjadi lebih maju lagi karena generasi penerusnya merupakan sosok yang bertanggung jawab dan cerdas. Karena amat begitu disayangkan, di tengah-tengah pesta yang diadakan di pantai yang sangat indah terdapat puluhan anak muda yang sedang merusak dirinya akibat kurangnya moral yang ditanamkan ke dalam budi pekerti mereka sejak kecil.

Sekolah Islam Pembangunan




Oleh: Elgi Nurfalahi

                 Masih banyak tumbuhan-tumbuhan di setiap sudut sekolah ini, hamparan rumput hijau melebar luas didepan gedung, hijaunya rerumputan maupun hijau semak belukar bersama saling berdampingan. Disamping itu beberapa menara palm masih berdiri kokoh di sekitar sekolahan. Waktu dulu tempat ini penuh di ramaikan oleh pohon palm yang tinggi, sekarang karena keberadaannya sering kali menakut-nakuti maka satu persatu populasi pohon palm pun dikurangi. Hanya ada beberapa bangunan kecil berdiri disekolah ini, bangunan-bangunan sekolahnya hanya ada tiga lokal dikali tiga, jika dibandingkan dengn luas bidang tanah,  kelas-kelas ini berbanding sedikit dengan keadaan luas bidang sekolahan. Keadaan sekolah ini masih dikuasai oleh hijaunya rerumputan dan tumbuhan-tumbuhan dan sekolah ini bisa dikatakan lebih asri dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang ada di kota Rangkasbitung.  

 Kulangkahkan kaki kedalam area sekolahan jam masih menunjukkan pukul enam pagi suasananya sunyi dan hanya dinginnya embun pagi yang menemani, bisingnya suara kendaraan bermotor kadang terdengar sesekali. Kutengokkan pandanganku ke sisi kanan, gedung tiga lokal dua baris berdiri santai disana menunggu siswa, selain pohon palm lapangan bola sepak juga ada didepan gedung dan barisan bunga-bunga serta tanaman menghiasi halaman kelas-kelasnya. Seperti biasanya di waktu pagi seperti hari ini belum banyak siswa maupun guru yang datang kesekolah.

Senin, 06 April 2015

Di bawah langit sore



Zaima Latifah (1113046000043)
            Ketika ku amati langit sore ia tampak kelabu, matahari pun tak menampakkan dirinya, angin mulai berhembus menerbangkan dedauan yang tenang, ditambah suara gemuruh dari langit seperti mengabarkan kepada penduduk bumi, bahwa hujan akan turun.  Sore ini ciputat tampak gelap. Angin yang cukup kencang beberapa kali terhembus, membuat jilbab yang dikenakan para mahasiswi bergoyang.
            Sekitar pukul tiga lewat empat puluh lima menit sore, hujan turun dengan deras. Aku pun menerobos hujan dengan sebuah payung berwarna ungu,tapi aku tak bisa menghindari genangan air, sehingga membasahi rok biru yang ku pakai. Sementara beberapa kegiatan jual beli di samping masjid fatullah tampak terhenti, karna sore ini hujan turun dengan deras, dan pembeli seperti enggan untuk berjalan melewati hujan.
            Di seberang jalan sudah ada bus kuning yang siap di tumpangi, tulisan ciputat rambutan dan 510 itu nampak jelas di muka bus, saat itu jam tangan ku menunjukan pukul empat sore, tapi langit ciputat nampak gelap seperti malam. Ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam bus, aku mendapat kursi kosong menghadap pintu, sehingga bisa melihat situasi diluar. Bus yang ku naiki berwarna kuning yang sering disebut bus sejuta umat, sebab bus itu memang berusaha memasukan penumpang sebanyak-banyaknya. Tapi langit ciputat sore ini membuat bus yang kutumpangi tampak longgar, hanya ada beberapa penumpang yang berdiri.
             Hujan juga membuat udara di dalam bus terasa sejuk tak seperti biasa terasa panas dan sesak, bahkan bau aneh yang biasa ku cium kali ini tidak ada. Mungkin karna letak posisiku yang menghadap pintu.
            Sore ini hujan benar-benar membasahi bumi. Di tambah suara gemuruh yang kecang, sehingga membuat penumpang langsung terkejut. Bahkan ibu separuh baya yang berada di sampingku langsung terkejut dan membuka matanya, sebab dari awal beliau nampak asik dengan dunia mimpinya, mungkin kegiatannya hari ini terlalu melelahkan.
            Memasuki jalan tol, bus yang kunaiki basah terkena hujan. Sementara pak kondektor sibuk menarik uang dari tangan-tangan penumpang.
            Pada pemberhentian berikutnya tepat di terminal Kampung Rambutan, hujan yang turun terhenti, ku lihat jam sudah menunjukan pukul enam lewat, kumandang adzan maghrib pun terdengar, aku bersama penumpang yang lain harus berpisah, kembali melanjutkan perjalanan masing-masing, dan bus kuning beristirahat sambil menunggu giliran bekerja lagi, mungkin ia juga sangat lelah melihat perilaku para penumpang dan juga supir yang seenaknya.

Pasar Kaget Tanjung Pasir

Syarifatul Jannah 
1113046000076
            Saya melewati pasar Tanjung Pasir sekita pukul lima sore. Halaman parkir pasar yang membentang dari utara ke selatan di sepanjang tepi kanan Jalan Raya Pelelangan, dengan panjang 45 meter dan lebar 10 meter, sedikit demi sedikit sudah mulai dipenuhi oleh para pedagang sayur, pedagang buah, pedagang perabotan, pedagang pakaian ada pedagang makanan dan minuman lainnya serta tempat bermain anak-anak yang disewakan. Mobil-mobil yang di parkir di halaman parkir sudah tidak ada.
            Para pedagang di halaman parkir ini membentuk dua deretan panjang dari utara ke selatan, deretan pertama berada di sebelah barat dari Jalan Raya Pelelangan, sedangkan deretan kedua berada di sebelah timur, pada bagian belakang pasar terdapat beberapa kios yang masih buka, ada pedagang bakso, pedagang mie ayam, dan pedagang es kelapa yang mengambil berdekatan dengan pedagang sandal sepatu. Beberapa pedagang ada yang menggunakan gerobak dan alas dari tenda. Di sebelah kiri mereka, kembali terlihat para pedagang perabot rumah tangga, sayur dan buah yang memanjangkan dagangan mereka di lantai aspal pelataran, dengan beralaskan tenda biru yang sangat kasar. Tenda itu mestinya digunakan untuk melindungi dagangan mereka dari hujan atau dari seuatu yang berada di atas, bukan digunakan sebagai alas. Mungkin mereka memanfaatkan yang ada, daripada untuk membeli lagi itu malah membuat kantong mereka memuntahkan uang lagi. Motto pedagang seperti ini “mengeluarkan pengeluaran sekecil-kecilnya dan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya”. Sudah tak asing ucapan seperti itu.
            Pedagang nasi sudah siap melayani langganannya, pedagang nasi itu tidak lain adalah nenek dari ayahku. Dagangannya sangat laris, walaupun rasanya enak, harganya sangat murah untuk di zaman sekarang yang padahal semua bahan barang pokok yang menaik. Berbeda dengan pedagang nasi yang dekat dengan Kostan Cheryl. Saya menghampirinya untuk membeli nasi uduknya yang aromanya begitu sedap. Letaknya persis di samping pohon beringin tua, batangnya benar-benar keras. Di batang pohon ini ada banyak semut yang menuju ke bagian atas pohon.
            Sore ini tidak banyak yang kelihatan orang yang berbelanja, mungkin karena sepanjang hari turun hujan, jalanan menjadi becek dan orang-orang agaknya masih malas untuk keluar dari istananya, betah dengan pulau kapuknya. Di halaman parkir yang digunakan untuk berdagang itu masih kelihatan ada genangan air. Pada deretan sebelah barat di belakang para pedagang terdapat aliran air got. Baunya sangat mengganggu pernafasan, tercium sampai ke jalan raya.
            Bau itu masih tercium ketika sekitar sembilan malam, saya dengan saudara belanja di pasar. Seluruh pelataran sudah dipenuhi pedagang dan orang-orang yang berbelanja. Udara di malam hari cukup dingin, dan kami memutuskan untuk makan mie ayam sambil melihat ramainya pasar kaget di malam hari.
            Kami duduk di ujung kanan pasar, karena di ujung ini banyak pedagang makanan. Kebetulan gerobak mie ayam berdekatan dengan tukang bakso, sehingga setelah selesai makan mie ayam dapat ditutup dengan makan bakso. Panas kompor tukang mie ayam dan bakso ditambah dengan asap yang mengepul dari panci yang mendidih, membuat malam di pasar makin menyenangkan. Pembeli bakso cukup banyak, begitu juga dengan pembeli mie ayam, terlihat semangat Abang bakso dan mie ayam.
            Terdengar samar-samar suara gitar Rio, pengamen pasar. Makin lama, suaranya semakin jelas tepat di dekat telingaku. Kelihatannya semua orang sudah terbiasa dengan pengamen pasar ini, dengan pakaian seadanya dan gitar tua miliknya. Memainkan gitar  genjreng-genjreng, mereka yang mendengar hanya memberikan komentar di belakang Rio, hanya hitungan jari yang bergerak untuk memasukkan uangn ke dalam plastik permen yang dibawa Rio. Dia melanjutkan langkahnya ke tempat lain, sosoknya hilang dari pandanganku, begitu juga dengan suaranya yang sember hilang oleh kebisingan tawar-menawar ibu-ibu yang membeli pakaian dan suara sendok yang bersentuhan dengan mangkuk bakso.
           Pak Jaka pedagang es kelapa merapihkan jualannya, sepertinya malam hari tidak cocok berjualan es. Buktinya saja dari tadi hanya mengobrol dengan tukang sandal yang berada tepat di sampingnya. Kotak es batu diangkat dan diletakkan ke dalam gerobak, kursi untuk alas kotak es juga diletakkan ke dalam gerobak. Dia mengangkat tangannya kepada para penjual lain, mungkin itu bentuk sapaannya kepada para pedagang lain.
            Tak beberapa lama banyak yang menyusul untuk bergegas, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Melelapkan mata sejenak untuk beraktivitas di esok hari.
            Selepas shalat subuh, saya dan teman-teman jogging. Kami melewati pasar kaget, berniat ingin ke pantai. Melihat pemandangan yang berbeda, tanah yang lapang tanpa pasar dengan aneka jualan atau tempat parkir yang sesak dengan mobil-mobil. Namun setelah selesai jogging kami lewat jalan pulang melalui Jalan Raya Pelelangan, terlihat kembali beberapa mobil yang siap memenuhi tanah tadi. Tanah ini padahal baru istirahat beberapa jam saja, begitulah nasibnya selalu seperti itu.
           

Senja di Pantai


Syarifatul Jannah 1113046000076
            Pukul empat lebih tiga puluh, suatu sore yang damai memandangi air di pantai. Matahari yang biasanya condong ke barat, memancarkan sisa sinarnya, sekarang belum muncul. Memang seharian ini cuaca mendung, senja yang cantik datang terlambat. Pukul lima, senja mulai nampak. Sinarnya yang tidak begitu cerah, membuat burung-burung berterbangan di sekitarnya. Nampak indah, mataku seperti tersihir melihat pemandangannya.
            Pada saat sekarang ini, kebanyakan nelayan sudah pulang membawa ikan hasil tangkapannya. Yang masih tersisa adalah mereka yang memang jauh-jauh datang ke pantai untuk melihat sunset. Tak terdengar suara motor dengan knalpot yang memengkakkan telinga, yang biasa dimainkan oleh beberapa remaja sebaga aksi seru-seruan mereka.
            Bangku panjang terletak kira-kira lima meter di kananku, yang setiap sore tak pernah sepi karena memang bangku panjang itu menjadi langganan ibu-ibu untuk sekedar melihat keramaian dermaga di pinggir pantai. Banyak nelayan yang lalu-lalang  membawa baju kotor dan beberapa hasil tangkapannya, wajahnya terlihat begitu letih. Wajar saja mereka berangkat dari jam empat pagi, namun ada guratan senyum di wajahnya, pasti hasil tangkapannya memuaskan hati mereka. Syukurlah.


            Di sekelilingku yang jelas terdengar adalah suara Umi dan Bibi Anung, mereka asyik sekali kalau sudah ngobrol berdua. Dermaga yang kira-kira dua belas meter di sebelah kanan, mulai ramai oleh muda-mudi, menghabiskan minggu panjang di sana. Sepanjang hari tadi, sejak pagi, para nelayanlah yang melewati dermaga itu untuk naik ke perahu miliknya. Para nelayan itu jauh lebih sopan, setidaknya sampah makanan beliau tidak dibuang sembarangan di tubuh dermaga.
            Burung-burung seripit terbang mengikuti arah angin, tak terdengar cicit mereka, yang terdengar suara anak-anak kecil yang berman sepeda, disela-sela suara orang dewasa yang tertawa terbahak-bahak entah menertawakan apa, deru motor, dan bunyi mangkuk tukang bakso namun belum terlihat gerobak si Abang bakso.
            Dari sebelah kanan, di seberang Pulau Seribu, terdengar sayup-sayup suara mesin kapal perahu menuju arah sini, terdengar pula anak-anak yang sedang memancing d pinggir pantai. Mereka senang sekali memancing, anehnya walaupun di pinggir pantai, setidaknya ikan satu ekor selalu mereka peroleh. Suara Rajib, pemancing cilik, terdengar bahagia mendapatkan ikan lebih cepat daripada teman-temannya.
            Umi dan Bibi Anung telah selesai ngobrol, lalu mereka pulang ke rumah. Mereka mengajakku untuk pulang juga, aku menolak karena masih ingin duduk di pinggir pantai yang damai dengan gelombang ombak yang lembut. Rintik-rintik hujan mulai turun dari langit, rintik-rintik hujan tidak membuat yang lain untuk pulang ke rumah masing-masing, malah dengan datang rintik hujan suasana menjadi semakin menyenangkan.
            Rintik-rintik hujan sudah berhenti, awan mulai agak cerah. Tiba-tiba terdengar suara anak-anak mengatakan “pelangi” sambil menunjuk jari mungilnya ke langit. Pandanganku langsung melihat langit, memastikan ucapan bocah lucu itu, ternyata benar ada pelangi. Mereka malah menyanyikan lagu pelangi, gemas sekali melihat mereka. Aku bersyukur bisa melihat keindahan Tuhan sekaligus, pelangi dan anak-anak kecil yang lucu.
            Pukul delapan nanti aka nada gerhana bulan, namun banyak yang belum mengetahuinya. Umi ditanyakan akan hal ini, jawabannya “tidak tahu”. Aku segera membersihkan tubuhku, sebelum diperintah oleh Umi, sementara pantaiku akan tertidur lelap sepanjang malam, mengumpulkan tenaga untuk esok hari menghadapi sentuhan pancing para nelayan.