Jumat, 01 Mei 2015

GLOOMY SUNDAY



GLOOMY SUNDAY
Emir Ramadhan
1113046000071
           
            Pria itu bernama John, lengkapnya John Vincent,dari raut mukanya terlihat bahwa dia sedang mengalami depresi. Wajahnya yang mulai keriput, menghiaskan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Janggut dan kumis tebal menghiasi wajahnya. Rambutnya yang pirang dan ikal, dibiarkan panjang terurai.
Sudah seminggu ini dia hanya memakai pakaian yang sama, tak menyentuh air sama sekali, kemeja yang lusuh dan celana jeans yang tak kalah lusuhnya. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah duduk termangu menatap kosong kearah jendela yang berdebu dan lapuk dimakan usia. Ia duduk di kursi goyang yang usang, di tiap goyangan ke depan dan belakang ia sebut perlahan dengan suara parau.
            “Helen…”, hanya itu yang keluar dari mulutnya selama seminggu terakhir, tak terasa air mata menetes dari ujung matanya.
            Helen adalah istrinya, seorang wanita yang sangat dicintai John. Parasnya yang cantik, tak berubah meski sudah menginjak usia 40-an. Rambutnya yang hitam dan lurus selalu dikuncir ke belakang. Helen sangat mencintai John. Setidaknya itu yang John tahu betul.
Mereka telah menjalin hubungan pernikahan selama 20 tahun. Selama 20 tahun menikahi Helen, mereka tidak dikaruniai seorang anak pun. Mereka hidup miskin dan tinggal di sebuah rumah tua peninggalan orang tua John di dalam hutan. Butuh waktu sekitar 2 jam jalan kaki untuk mencapai desa terdekat. John tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di rumah tersebut karena keterbatasan keuangan keluarga mereka.
Selama ini John bekerja sebagai pencari kayu bakar, lalu ia jual kayu tersebut di desa. Penghasilannya tak seberapa, bahkan terkadang tak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Namun mereka menjalani kehidupan mereka dengan ikhlas dan sabar, tak pernah sedikitpun Helen mengeluh dengan keadaan keluarganya, Ia selalu memberi semangat dan mendukung John.
Namun, cerita lain dari pernikahannya berawal dari minggu lalu. John berangkat mencari kayu bakar seperti biasanya. Sebelum berangkat, Ia sempatkan mengecup hangat kening Helen, kemudian ia kecup bibirnya, lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian kecupan lembut itu berubah menjadi ciuman yang panas dan bergairah dan John tiba-tiba melepas ciuman itu seraya berkata.
“Ooh, simpan itu setelah makan malam sayang” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Baik sayang, jangan terlalu lelah bekerja, aku takut kau tak kuat mengimbangiku”, balas Helen dengan gigitan lembut pada bibirnya.
Kemudian John melangkah berlalu kemudian hilang dibalik pepohonan. Hari ini adalah hari jadi mereka yang ke-20 tahun. Entah mengapa, ia sangat bersemangat bekerja hari ini. Setelah ia menjual kayu bakar hasil penjualannya hari ini, ia berniat untuk membelikan liontin untuk Helen. Uang tersebut ia dapat setelah menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya selama beberapa bulan. Memang selama menikah John tidak pernah memberikan perhiasan pada istrinya karena keterbatasan keuangan keluarganya.
Setelah John membeli liontin tersebut, Ia pandangi sebentar, terukir di wajahnya senyuman bahagia. Membayangkan ekspresi Helen ketika diberikan liontin tersebut membuat John geli sendiri. Lalu, Ia selipkan liontin tersebut di kantong Jeans nya yang usang dan bergegas pulang ke rumah.
Sementara John pulang ke rumah, Helen dengan wajah riang menyiapkan segalanya dirumah.  Ia ingin hari ini terlihat sempurna. Ia sangat mencintai John dan ingin suaminya senang hari ini. Hari ini Helen telah membersihkan hampir seluruh rumah, Ia juga memasak makanan istimewa kesukaan John. Ia tak mau hari ini berlalu tanpa meninggalkan kesan di hati suaminya tercinta.
Makanan sudah siap dan Helen menatanya di meja makan. Setelah ditata sedemikian indah, Ia tolehkan pandangannya ke jam dinding di sudut rumah. Sudah hampir malam, sebentar lagi John pulang. Kemudian ia menyalakan lilin dan semuanya sudah siap dan lengkap.
Ia terlalu bersemangat sampai melangkah sambil sedikit berjingkrak.hingga tak melihat bahwa ada kain pel di dekatnya yang belum sempat ia letakkan pada tempatnya usai membersihkan lantai. Helen tersentak kemudian sempat meraih meja makan untuk menahannya agar tak terjatuh, namun yang diraihnya adalah taplak meja makan dan tertarik seiring Helen terlentang jatuh ke bawah. Semua makanan berhamburan ke bawah, diiringi dengan piring piring yang pecah. Kepala bagian belakang Helen terasa sakit, sedetik kemudian Ia menyadari bahwa lilin tersebut masih menyala dan dengan cepat mulai membakar rambut Helen. Ia panik dan meminta pertolongan, namun semua itu percuma tak akan ada orang yang mendengar.
Helen yang panik kemudian bergegas mencari air untuk menyiram api yang membakar rambutnya. Ia berlari tergopoh-gopoh menuju halaman belakang rumahnya untuk mengambil ember berisi air. Setelah berlari sambil tetap berteriak meminta pertolongan, ia melihat sebuah ember berada tidak jauh dari tempat Ia berdiri. Ia segera berlari dan kemudian menyiramkannya ke seluruh tubuhnya. Tiba-tiba, api yang tadinya hanya membakar rambutnya kini telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ternyata yang ia siramkan ke tubuhnya adalah minyak tanah yang seharusnya digunakan untuk memasak.
Rasa panas yang hebat mengikis lapisan kulitnya dan menimbulkan rasa sakit di sekujur tubuh Helen. Helen tetap berteriak meminta pertolongan, tapi tak seorangpun yang datang, bahkan John sekalipun.Helen kini tak sanggup berdiri, api semakin membesar memanggang seluruh tubuhnya. Kulitnya yang putih dan parasnya yang cantik kini telah diselimuti nyala api yang kuning kemerahan. Helen tak sanggup lagi berkata-kata, tubuhnya terlungkup tak lagi memberikan perlawanan yang sia-sia. Hanya rintihan halus dan menyiksa telinga siapapun yang mendengar suaranya. Api yang semakin besar sudah menembus kulitnya dan membakar sebagian organ dalamnya. Panas yang kian hebat dirasakan Helen dari ujung kepala hingga kaki. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka, tangan kanannya menjulur kedepan tanpa meraih apapun.
Pandangannya memudar, bayangan gelap perlahan mengampirinya dan kemudian semuanya gelap. Tak ada lagi rintihan Helen, tak ada lagi gerakan dari tubuhnya. Jiwa Helen telah terpisah dari jasadnya yang menghitam terbakar api yang mulai padam. Kulitnya yang putih, wajahnya yang cantik, wajah yang selama ini menghiasi hari-hari John kini sudah menghitam terpanggang. Rambutnya yang selalu dikuncir, kini hanya tersisa beberapa helai yang rapuh. Gaun berwarna coklat yang dipakainya, kini sudah tak berbentuk, hanya sedikit menutupi bagian tubuh Helen. Darah yang keluar meletup letup mengiringi asap yang ditinggalkan setelah api selesai melaksanakan tugasnya.
Seminggu setelah kematian Helen, John hidup dalam kesendirian, ia tak lagi mempunyai alasan untuk tetap hidup. Liontin yang tak sempat ia berikan kepadaHelen selalu berada  dalam genggamannya. Ia masih tak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpanya bahwa istrinya telah pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal. Yang ia lakukan hanyalah membuat kopi dan meminumnya sedikit-sedikit agar tetap terjaga dan terus memandang keluar melalui jendela, ke arah jasad istrinya yang kini sudah membusuk.
Perlahan ia bangkit dari kursi goyang, hendak berjalan menuju kamarnya. Saat melewati kamar, ia berhenti sebentar di ruang makan. Pecahan piring dan gelas masih berserakan di lantai bersama taplak dan lilinnya, makanannya sudah tak lagi utuh karena dimakan oleh tikus-tikus rumah. Ia menangis tersedu-sedu sambil meneruskan langkahnya yang lemas menuju kamarnya. Lalu ia mengambil sebuah kaset musik yang terletak di rak buku tua peninggalan orangtua nya.
Kemudian ia melangkah keluar kamar, menuju ke pemutar kaset tua di sudut ruangan, tak jauh dari kursi goyang. Dimasukkannya perlahan dan ia kembali duduk di kursi goyang. Ia julurkan tangannya untuk menekan tombol agar musik menyala, dan mengeraskan suara pemutar kaset tersebut sampai dirasa cukup memecah keheningan. John kembali duduk dan memejamkan matanya. Kemudian, lagu dari pemutar kaset mulai memutarkan sebuah lagu yang melukiskan perasaan John kala itu.

Sunday is gloomy, the hours are slumberless
Dearest, the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you
Not where that dark coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you
Would they be angry if I thought of joining you?
Gloomy Sunday...

Gloomy is Sunday, with shadows I spend it all
My heart and I have decided to end it all
Soon there'll be prayers and candles are lit, I know
Let them not weep, let them know that I'm glad to go
Death is a dream, for in death I'm carresing you
With the last breath of my soul, I'll be blessing you
Gloomy Sunday...

Dreaming- I was only dreaming
I awake and I find you asleep in the deep of my heart, here-

Darling, I hope that my dream hasn't haunted you
My heart is telling you how much I wanted you
Gloomy Sunday...
It's absolutely gloomy Sunday...
Sunday...
Setelah lagu berhenti, ia kembali membuka matanya. Tangisan John terdengar memecah keheningan. Ia benar-benar terpukul atas kepergian Helen.
John kembali bangkit dari kursi goyang itu, ia melangkah dengan cepat menuju halaman belakang rumahnya. John tampak tergesa-gesa melangkah, tak dilihatnya ruang makan yang sebelumnya Ia perhatikan betul. Ketika di halaman belakang pun tak Ia lihat kembali jasad Helen. Ia mengambil sebilah kapak yang biasa ia gunakan untuk membantunya mencari kayu bakar. Kapak yang selama ini menemaninya menghidupi keluarganya.
Setelah mengenggam kapak itu, John kembali berjalan menuju kursi goyang. Dengan cepat ia sampai dan kembali duduk di kursi goyang itu. Lalu, John memutar kembali lagu yang tadi Ia dengar. Sebuah lagu berjudul Gloomy Sunday. John melihat ke halaman belakang, melihat jasad istrinya tercinta dan kemudian memejamkan matanya. Kapak yang sedaritadi bersamanya di letakkan diantara kakinya yang terbuka, dengan mata kapak yang mengarah keatas. Pemutar kaset mulai bersuara dan John mulai menggoyangkan kursi itu, gerakkan kursi itu seirama dengan lantunan lagu yang diputar. Kedepan dan belakang begitu terus hingga lagu mencapai bait “My heart is telling you how much I wanted you” , kemudian tiba-tiba John menghentakkan kakinya kedepan dan membuat kursi goyang bergerak cepat kedepan dan kembali ke belakang. Saat kursi goyang itu kembali mengarah ke depan, tiba-tiba John mengayunkan kapak itu ke kepalanya dengan cepat.
Darah keluar dari kepala John, semburannya cukup kuat hingga mengenai jendela kaca yang tak jauh darinya. John meninggal seketika dengan kapak menancap di kepalanya, menghancurkan tempurung kepalanya hingga menembus otak John. Terlihat senyuman terukir di bibirnya yang hampir tertutup oleh kumis dan jenggotnya yang tebal. Darah keluar mengalir membasahi wajah dan tubuh John.
Lagu berhenti, dan tak ada lagi yang akan memutarnya. John telah pergi, menyusul Helen di alam lain. John meninggal di hari Minggu. Tepat seminggu setelah kematian Helen. Hari minggu yang suram, hari minggu yang penuh darah, sebagai tanda kasih sayang diantara sebuah pasangan.


LIMBAH YANG MENJADI EMAS


“BANGUN..! AYO BANGUN, SUDAH PAGI KAK, DEK!” teriak Ayah di depan kasur ke dua tiga putrinya.
Nida dan Bilqis sudah mulai mencoba membuka matanya dan duduk dikasur, tetapi anak sulungnya masih berada dibawah selimut, sepertinya ia sangat lelah sehabis mengerjakan tugas semalaman.
Nurlaela, sering dipanggil Ella, istri dari Muhammad Ojar. Dia memiliki tiga putri, yang pertama bernama Ria Nurlaila yang sekarang duduk di kelas 1 SMK. Anak keduanya bernama Nida Nurlaila yang sudah kelas 2 SMP dan yang bontot Zahratul Bilqis kelas 2 SD.
Ella membantu suaminya untuk membangunkan mereka, karena sudah waktunya sholat subuh dan mereka semua harus sekolah hari ini. Ella telah menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum mereka pergi menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing.
Anak-anak sudah berangkat ke sekolah semua, sekarang giliran Ojar yang berangkat mencari rezeki untuk keluarga tercinta.
Ojar bekerja sebagai tukang kredit keliling dengan sepeda motor bebeknya. Setiap hari ia berangkat pukul 8 pagi dan pulang sekitar pukul 3 atau 4 sore. Ia berkeliling hanya di daerah Radio Dalam, Hj. Nawi, dan Tanah Kusir 2. Hampir semua jenis barang ia kreditkan. Mulai dari peralatan anak sekolah, peralatan rumah tangga sampai barang-barang elektronik pun bisa di kreditkan dengan lama jangka waktu kredit yang disesuaikan.
Ella sendiri tidak bekerja atau menjadi wanita karir. Ella hanyalah seorang ibu rumah tangga di keluarga kecilnya. Rumahnya berada di jalan Dwijaya dengan bentuk yang minimalis. Di rumahnya hanya terdapat dua kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang tengah dan sebuah teras kecil di depan rumah. Teras yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk santai namun berbeda dengan keluarga satu ini. Terasnya dipakai untuk memarkirkan kendaraan sang Ayah—Ojar. Cat tembok depan rumah berwarna biru laut, dan cat pada pintu serta jendela diberi warna oren jeruk sunkist sehingga rumahnya terkesan cerah.
Seperti biasanya, Ella belanja sayuran di warung sayur dekat rumahnya untuk menyiapkan makanan sore setelah semua keluarga berkumpul dirumah. Belanja bersama ibu-ibu lain, tidak jauh dari aktifitas ‘bergosip’. Hari ini yang digosipkan adalah tetangga yang baru pindahan. Tetangga mereka itu memiliki anak perempuan yang berbadan sangat besar—obesitas.
“Tahu gak, bu. Tetangga baru kita yang dirumah kontrakan itu punya anak perempuan” ujar salah satu ibu-ibu yang sedang berbelanja
“Lalu kenapa, bu?”
“Masa anaknya gemuk banget, bu. Untuk ukuran anak perempuan seumurnya, ukuran badannya tampak gak pantas”
“Masa sih? Anaknya itu obesitas ya, bu?”
“Sepertinya. Yang saya pikirkan, apa orang tuanya tidak merawatnya dengan baik?”
“Saya dengar, orang tuanya kerja dua-duanya, bu. Hanya ada seorang baby sitter  yang menjaga anaknya selama orang tuanya bekerja”
“Wah pantas saja. Kok bisa ya, tega orangtuanya meninggalkan anaknya sendirian seperti itu. Mana tak merawat diri juga”
“Iya, saya juga heran”
Ella yang berada disana, hanya mendengarkan sambil memilih-milih belanjaan yang hendak dibelinya. Biasa, ibu-ibu tak pernah lepas dari bahan pembicaraan. Ia tak mau menambah dosa atau omongan tak terbukti lainnya mengenai tetangga baru mereka.
Sepulang Ella belanja, anak bontotnya sudah dirumah, menonton film Upin&Ipin masih dengan mengenakan seragam olah raganya.
“Bilqis, ganti pakaianmu dulu nak, pasti basah dan bau” Ella berkata kepada anak bontotnya.
Perkataan Ella tak diacuhkan oleh Bilqis. Memang anak ini kalau sudah di depan televisi hanya fokus pada layar di depannya, tidak mengacuhkan hal lain di sekitarnya. Akhirnya, Ella membawakan baju ganti untuk anaknya dan digantikan juga pakaiannya.
Satu persatu penghuni rumah telah kembali pulang. Setelah sholat Isya, mereka biasanya makan bersama di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga untuk berkumpul dipenuhi canda tawa. Ojar menceritakan pesanannya yang membludak kepada sang istri dengan semangatnya, dan sang istri terlihat tersenyum lepas.
Ella lalu berucap, “Alhamdulillah, Ayah kapan mau belanja pesanan nya? Apa modal di tabungan cukup untuk membeli semua pesanan?” tanya Ella kepada Ojar.
“Mungkin lusa Ayah akan belanja ke pasar Kebayoran Lama karena besok Ayah harus membawakan kipas angin pesanan Bu Santi” jawabnya.
Sekarang sedang marak barang elektronik sejenis laptop di masyarakat. Dampaknya, banyak warga sekitar yang mengambi barang dari Ojar dengan cara kredit sekitar satu sampai dua tahun. Bertanda rezeki untuk Ojar dan keluarga. Berbeda dengan orang yang berada di kalangan atas, mereka bisa langsung membelinya di toko dengan uang tunai tanpa perantara Ojar.
Tujuh bulan kreditan yang diterimanya sudah berjalan dengan lancar, bahkan semakin banyak yang menambah kreditan dengan barang-barang lainnya. Sehingga keluarganya pun dapat merasakan pendapatan Ojar yang sekarang meningkat. Istrinya dibelikan gelang emas dan anak-anaknya dibelikan keperluan lainnya.
Bulan berganti bulan, banyak yang mengulur waktu pembayaran kredit, dengan segala alasan mereka berikan kepada Ojar agar memberinya waktu lebih lama untuk membayar. Semakin berlarut waktu yang diberikan kepada para pemilik hutang, banyak juga dari mereka yang menghilang sehingga Ojar bingung untuk mencarinya. Akibatnya, Ojar tidak memiliki modal lagi untuk membeli barang baru untuk di kreditkan. Bangkrut, dia sekarang mengalami kebangkrutan. Hingga gelang sang istri pun yang kemarin ia belikan terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Dia tak lagi memiliki modal untuk melanjutkan usaha kreditnya, ia sudah bingung bagaimana kelanjutan usahanya. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meminjam uang modal kembali kepada sebuah bank dengan jaminan sertifikat rumahnya.
Usaha kreditnya pun kembali berjalan. Seiring berjalannya waktu, bangkitlah perekonomian keluarga Ojar dan Ella. Tetapi mereka masih belum mampu bertahan hidup sendiri tanpa dana bantuan dari bank. Mereka kembali meminjam dengan nominal yang lebih besar dengan jangka waktu pembayaran yang lebih panjang.
Ella berpikir untuk ikut arisan di kalangan ibu-ibu sebesar lima ratus ribu rupiah perminggu. Tujuan awalnya adalah untuk berjaga-jaga di kemudian hari, apabila keluarganya terkena musibah lagi. Semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan sampai sebelum bulan puasa tiba, salah seorang anggota arisan yang bertanggung jawab memegang uang arisan tersebut kabur membawa semua uang arisan. Ella sudah menabung selama tujuh bulan, ia pun kehilangan uangnya yang selama ini ia setorkan ke dalam tabungan arisan sebesar empat belas juta rupiah.
Keluarga Ojar dan Ella pun kembali jatuh karena mereka tidak bisa membayar hutang ke bank dengan lancar, sehingga banyak denda yang ditanggungnya akibat dari keterlambatan pembayaran. Lama mereka merasakan keadaan seperti ini. Yang tadinya sering berkumpul keluarga, sekarang sudah sangat jarang karena Ojar yang siang masih bekerja mengambil tagihan kredit yang tersisa, dan saat malam Ojar bekerja tambahan menjadi penjaga malam di sebuah “Ranch Market” daerah Pondok Indah.
Selama bekerja di supermarket tersebut, setiap malam ia melihat tumpukan plastik, kardus, kertas dan barang bekas lainnya dipinggir gudang. Paginya selalu ada orang yang mengambil barang-barang itu dengan cuma-cuma. Ia pun berpikir, limbah-limbah setiap hari di supermarket itu bisa menjadi lahan pendapatan untuknya. Ia bisa membeli barang itu dari atasannya dan kembali menjualnya sehingga mendapatkan keuntungan.
Atasannya pun setuju dengan ide itu. Mulailah pekerjaan baru Ojar sebagai pembeli dan penjual barang bekas.
Dari idenya menjual kembali barang-barang bekas yang ada di supermarket tempatnya bekerja, datang banyak tawaran dari supermarket-supermarket lainnya agar ia juga membeli barang-barang bekas milik mereka.
Ia sebenarnya mau membeli barang-barang bekas dari supermarket-supermarket yang menawarkan diri namun modal yang dimilikinya tak cukup untuk membeli semua barang bekas mereka.
Ia mengeluhkan masalah modalnya ini kepadanya Ella, sang istri.
“Ayah kok pulang wajahnya lelah banget. Ada masalah, Yah, di tempat kerja?”
Ojar pun duduk di kursi ruang tamu dan sang istri duduk disisinya. “Ada sedikit masalah, Ma”
“Masalah apa, Yah? Cerita sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu”
“Usaha Ayah untuk menjual kembali barang-barang bekas di supermarket mendapat respon baik dari atasan. Ada juga beberapa supermarket lain yang meminta Ayah untuk membeli barang-barang bekas milik mereka”
Ella tersenyum mendengarnya, “Alhamdulillah, Yah. Itu rezeki dong, Yah, lalu apa masalahnya?”
“Masalahnya di modal, Ma. Ayah kekurangan modal untuk membeli barang-barang bekas mereka”
“Modal lagi, Yah? Apa kita harus meminjam lagi?”
Ojar menggeleng, “Jangan, Ma. Kita saja sedang mencoba melunasi hutang yang ada, masa mau menambah lagi”
Ella terdiam sesaat, “Coba nanti Mama tanyakan kakak Mama, siapa tahu dia mau meminjamkan”
Ojar pun mengulas senyumhya, “Baiklah, makasih, Ma. Tapi jangan dipaksakan, Ayah gak enak”
Ella bergerak cepat, ia langsung menanyakan kepada kakaknya untuk meminjamkan modal usaha padanya. Sang kakak yang juga tak tega kepada adiknya pun meminjamnya sejumlah uang modal untuk membantu kehidupan sang adik yang tampak cukup sulit sekarang ini.
Ella pulang kerumah dengan membawa uang modal. Ia pun menunggu sampai sang suami pulang untuk membicarakan masalah modal yang mereka butuhkan ini.
Paginya, Ojar pulang kerumah dan menemukan Ella yang menyambutnya dengan senyuman. Ia menjadi terheran sendiri melihat tingkah sang istri dan bertanya.
“Ada apa kok senyum-senyum sendiri, Ma?”
“Yah, kemarin Mama ke rumah kakak Mama dan membicarakan kebutuhan modal kita. Alhamdulillah, dia mau meminjamkan, Yah. Ini uangnya”
Ella mengulurkan sebuah amplop coklat ke tangan Ojar.
“Alhamdulillah! Semoga usaha kita kali ini berjalan lancar ya, Ma”
Ojar membuka amplop coklat tersebut dan bersyukur karena modal yang diberikan sangat cukup digunakan untuk memulai usaha barang bekas ini.
Untuk awalnya Ojar menyewa sepetak tanah dibelakang rumahnya untuk digunakan sebagai tempat menyimpan semua barang bekas, lalu ia bangun sendiri tanah tersebut dengan triplek, kayu dan asbes yang sudah tidak terpakai yang ia dapati dari sana sini.
Kemudian, ia mulai menawarkan diri kepada warung pinggir jalan, minimarket dan supermarket untuk menjual barang-barang bekas milik mereka kepadanya dengan cara ia ambil setiap minggunya menggunakan mobil bak sewaan. Banyak yang merespon baik dalam hal ini, sehingga Ojar langsung mendapatkan banyak pelanggan tetap.
Saat ini, ia telah berhasil mengangkat kembali perekonomian keluarganya yang sempat terpuruk. Hidupnya berubah jauh lebih baik, bahkan perekonomiannya kini melebihi yang sebelumnya.
Sekarang ia telah memiliki empat orang yang bekerja padanya. Sertifikat rumah yang sempat digadaikannya telah kembali dan ia sekarang memiliki dua mobil bak yang sudah lunas cicilannya. Hutang-hutang lainnya pun sudah lunas termasuk hutang mereka ada bank.
Mereka sangat berterimakasih kepada kakaknya Ella karena telah membantunya semasa mereka sulit. Keluarga Ojar pun sekarang menjalani kehidupan dengan senang dan damai dihati.
Barang-barang bekas tersebut bisa menjadi sumber kekayaannya. Limbah-limbah yang tak pernah dipikirkan orang dapat diputar kembali menjadi sebuah usaha. Limbah yang terbuang sia-sia, tapi mampu membuatnya sukses. Limbah-limbah tersebut mampu menjadi emas untuknya. Emas yang kini dapat ia beli selain harta lainnya.

-Selesai-

Cerpen UTS (Muhammad Yasser Rifai) (1113046000007)



Sehelai Daun Singkong
Sudah sekitar dua jam aku dan empat orang sahabat ku menghabiskan waktu dengan sekedar berbincang, bersenda gurau, dan berbicara santai di kamar ku yang memang biasa menjadi tempat berkumpul aku dan sahabat-sahabat ku yang lain. Sudah tak terhitung lagi sudah berapa kali kami menghabiskan waktu di kamar ku yang tak terlalu besar ini tapi cukup menampung lima orang sahabat yang dipertemukan pada saat kami kelas 2 SMA. Kemana-mana pun kita tak pernah terpisah. Kami sering di panggil sebagai geng Sehelai Daun Singkong oleh teman-teman kami karena kami berlima selalu bersama-sama melakukan apapun dan kemanapun seperti hal nya dengan daun singkong yang memiliki lima jari di tiap helai nya.
            Yang pertama Dio, dia merupakan sosok yang supel, suka sekali mengajak kita pergi ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Dio juga hobi berolahraga. Terlebih lagi dengan bola basket. Tak jarang teman-teman perempuan di SMA kami suka dengan kharisma yang dia miliki.  Dia juga memiliki wajah yang bisa di bilang cukup tampan.
            Yang kedua itu Endang. Sebenarnya nama panjang dia adalah Refandi Armanda. Mungkin banyak orang ketika baru mengenal dia bingung kenapa dia bisa di panggil Endang. Sebenarnya, Endang itu merupakan nama orang tua laki-laki dari dia. Dia sudah dipanggil Endang dari saat dia masih SMP oleh teman-teman sekolah nya. Endang dikenal oleh orang-orang sebagai lelaki yang playboy. Tidak jarang dia mengenali ke kami teman dekat perempuan nya yang berbeda tiap bulan. Tetapi sebenarnya Ia hanya cinta pada satu orang teman kami bernama Meta. Namun Meta selalu menolak cinta Endang ketika dia mencoba menawarkan dirinya untuk menjadi kekasih Meta.
            Lalu ada Fajar, sahabat kami yang paling kurus di antara kami ini merupakan teman kami yang sangat suka bermain futsal. Tak jarang dia terpilih menjadi Player of the Cup di tiap turnamen yang dia ikuti bersama tim futsal sekolah kami.  Fajar merupakan sahabat kami yang paling rajin diantara yang lainnya.
            Selanjutnya Sofyan, dia merupakan orang yang memiliki badan terbesar di antara kami semua. Tak jarang juga ia mendapatkan celaan bercanda dari kami yang menyinggung berat badannya yang sedikit over itu. Dia merupakan sahabat yang paling royal diantara kita. Sering sekali dia meneraktir kami makan di suatu tempat.
            Dan yang terakhir itu aku. Aku bernama panjang Husni Faktullah. Namun orang-orang biasa memanggil nama ku dengan nama Acing. Jangan tanyakan kenapa banyak orang yang memanggil aku Acing. Karena aku pun sendiri tak tahu jawaban pasti nya itu apa. Aku mempunyai hobi yang sama dengan Dio yaitu berolahraga basket. Kami pun menjadi rekan setim basket di sekolah kami. Namun kami menjadi musuh ketika kita sedang mengikuti kejuaraan yang membawa nama klub basket kami masing-masing. Tapi hal ini tidak pernah memecah kami. Karena kami tahu hal-hal yang ada di lapangan tak harus di bawa keluar lapangan.
“Eh, apakah kalian tidak bosan? Kita sudah lama sekali disini. Bagaimana kalo kita pergi?” tanya Dio sembaring memantulkan bola basket ke tembok kamarku.
“Iya aku bosan. Aku setuju dengan Dio!” jawab aku.
 “Kemana?” si Fajar bertanya.
“Sudah, kalian ikut aku saja. Aku mempunyai rekomendasi tempat kita hang out di daerah Tendean.” jawab Dio
“Berangkat!” ucap Sofyan dengan semangat.
Sesampainya disana kami langsung memesan makanan masing-masing. Malam itu tempat makan yang sedang kami singgahi itu cukup ramai dengan pembeli nya. Membuat kami harus mengencangkan sedikit suara kami jika ingin suara kami terdengar satu sama lain.
“Eh, Aku sedih deh!” ucap Endang yang membuat kami serius mendengarkan apa yang ia katakana
“Kenapa ndang? Metatidak membalas sms kamu lagi? Bukannya sudah biasa? Kamu tak harus bersedih lah!” jawab aku sambil meledeki si Endang.
“Bukan cing bukan seperti itu. Sekarang kita sudah kelas 3 SMA. Berarti sebentar lagi kita lulus dan berarti kita nanti pasti bakal sibuk dengan kuliah masing-masing. Kita bakal jarang kumpul-kumpul seperti ini lagi.”
 “Jangan berlebihan lah kamu Endang. Kita kan masih bisa berkumpul seperti ini lagi ketika hari minggu.” bantah Fajar tak setuju dengan ucapan Endang.
“Eh jar, tapi aku setuju dengan kata-kata si Endang. Kita pasti akan jarang ngumpul kaya seperti ini lagi. Setau aku, tugas-tugas yang dikasih dosen ketika kuliah itu pasti akan menyita banyak waktu kita untuk santai, tidak seperti pada saat kita SMA. Pasti akan berbeda banget deh. Aku tidak yakin kalo kita bakal bisa berkumpul sesering ini lagi.” Ucap Sofyan.
Tak lama kemudian makanan yang telah kami pesan telah datang. Hal ini memberhentikan sejenak obrolan kami. Tetapi kami tetap melanjutkan obrolan kami sambil menyantap makanan yang telah kami pesan.
“Oh seperti itu ya? Aku jadi ikut sedih mendengarnya.” ucap aku sambil memotong roti bakar yang aku pesan.
“Aku punya rencana! bagaimana jika setelah kita UN kita pergi ke tempat yang jauh? Ya hitung-hitung sebagai perpisahan kecil sebelum kita kuliah di tempat yang berbeda” ujar Dio menawarkan ide nya.
“Ide yang bagus io! Tapi kemanakah kita harus pergi?” tanya Fajar
“Bagaimana kalo kita ke Bali? Masih ada waktu 7 bulan sebelum kita UN, aku rasa cukup untuk kita mengumpulkan duit dulu sebisa kita. Namun ketika duit kita masih kurang, kita minta tambahan duit ke orang tua kita. Gimana? Setuju?”
“Aku sih setuju, bagaimana dengan yang lain? Tanya aku sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Sudah, tidak ada yang boleh tidak setuju. Semua harus setuju!” jawab Sofyan sambil menghabiskan suapan terakhir dari makanan yang dia pesan
Ujian Nasional pun akhirnya kita lewati. Dan hari keberangkatan kita menuju Bali pun semakin dekat. Sudah tak ada yang sabar lagi dengan kepergian kami bersama-sama menuju Bali. Kami terlihat antusias dan dipikiran kami tiap hari hanya ada Bali, Bali dan Bali.
            Dan akhirnya, hari keberangkatan kita ke Bali pun datang. Semua bersemangat menjalani hari ini. Dan berangkat lah kami menuju Bali menggunakan pesawat yang tiketnya sudah kami pesan dari empat bulan yang lalu.
            Sesampai nya disana kami pun beristirahat di hotel yang sudah kami pesan. Hotel bintang tiga. Tidak masalah kelas berapa hotel yang kami tempati. Selama kami lalui bersama-sama semua pasti akan terasa menyenangkan.
            Keesokan hari nya kami menuju destinasi pertama kami yaitu pantai yang sudah terkenal hingga keluar negeri. Yang dibuktikan dengan banyak nya turis asing yang menikmati indah nya pantai ini.
            Setelah dari pantai kami menuju ke toko pakaian yang sudah amat terkenal yang hanya ada di Bali yaitu Jogger. Di sepanjang perjalanan kami dari pantai ke toko pakaian Jogger kami melihat pura kecil yang di atas nya terdapat sesajen. Sesampai nya di Jogger kami membeli oleh-oleh pakaian untuk keluarga kami masing-masing.
            Keesokan hari nya kami menuju ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) untuk menonton tarian tradisi masyarakat Bali. Kami menonton beberapa macam tarian Bali diantara nya yaitu Tari Barong Tari Kecak, Tari Belibis dan tari yang lainnya.
“Teman, Tarian-tarian yang kita tonton tadi menurut ku keren banget deh. Tapi yang paling menarik perhatian aku itu tari Barong. Ada yang tau gak sih filosofi dari tari barong itu?” tanya Sofyan
“Iya emang menurut aku juga tari barong itu yang paling keren. Seperti ini sof ceritanya, tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya. Gitu sof.” ucap Fajar menanggapi pertanyan Sofyan.
“Wow, kok kamu tau jar? Keren banget!” tanya Endang dengan kagum terhadap Fajar.
“Iya dong. Siapa dulu? Fajar!” ucap Fajar sambil menyomombongkan diri. Dan kami semua pun tertawa karena candaan kesombongan yang dia buat.
Tibalah akhirnya hari terakhir kita berada di Bali. Sebelum menuju bandara kita menyempatkan diri untuk ke Pantai Kuta untuk hanya sekedar menikmati pantai dan membuat dokumentasi dengan foto maupun dengan rekaman video.
            Pada akhirnya, sampai lah kami di Jakarta pukul 08.00 malam. Dan langsung saja kami menuju kerumah aku untuk istirahat sejenak. Ketika sampai dirumah ku, kami pun beristirahat di kamar ku.
“Guys, makasih ya. Luar biasa! Aku seneng banget sudah bisa pergi ke Bali bareng kalian. Seru banget. Emang kalian tak ada matinya deh! Aku beruntung bisa bersahabat sama kalian semua.” kata ku.
“Iya aku juga seneng banget, tapi disamping kesenangan aku ada kesedihnya juga nih. Kalo kita udah ke Bali bareng berarti ini menandakan kita sebentarr lagi bakal pisah. Tak akan lagi kita setiap hari menghabiskan waktu bersama. Di depan sudah ada perguruan tinggi yang menunggu kita. Setelah ini pasti kita semua punya kesibukan masing-masing. Dan akan susah banget mengatur jadwal kita untuk ketemu walaupun hanya 3 bulan sekali.” Ucap sofy sambil mengusap air mata yang sedikit keluar dari mata nya.
“Yah jangan ngomong seperti tu dong Sof, pokoknya aku tak mau tahu ya! Tiap 3 bulan sekali kita harus ketemu bagaimanapun caranya.” Paksa Dio kepada kami.
“Deal!” ucap aku, Sofyan dan Endang berbarengan.
Sekarang kami sudah memasuki perguruan tinggi yang kami inginkan masing masing. Aku sekarang kuliah di UIN Jakarta dan  mengambil jurusan Ekonomi Syariah. Dio, sekarang dia sedang sibuk menjadi ketua Himpunan Mahsiswa Jurusan Sosiologi UNJ. Sofyan berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Universitas Indonesia jurusan Vokasi. Fajar menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor di jurusan Kesehatan Masyarakat. Dan Endang sekarang dia kuliah di Universitas Trisakti Mengambil jurusan perminyakan.
Sampai sekarang kami masih rutin mengadakan pertemuan tiap 3 bulan sekali di berbeda-beda tempat dan kami juga masih sering berbincang satu sama lain dengan group chat di Whatssap. Persahabatan kami tidak akan pudar walaupun kami harus berpisah pada saat masuk perguruan tinggi. Kami selalu yaki bahwa tidak ada yang bisa meisahkan kita sebagai sahabat kecuali waktu.

-Selesai-